Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2014

Membutuhkanmu & Kemaluan Kemaluan Di Dalamnya




Tulisan ini kubuat ‘tuk melepas dahaga 'kelegaan seusai pentas' dan semoga juga tulisan yang tidak terlalu panjang ini sudah cukup untuk mewakili perasaan dan rasa terima kasih kepada teman-teman. Buah pikir ini tercipta setelah kami manggung dalam pembukaan pameran 3M Project #1 bertajuk Beyond Bachelor: Myths tepatnya di studio Ace House Collective, Sabtu, 18 Oktober 2014 lalu.

Bagi sebagian teman yang belum mengenal jauh tentang Membutuhkanmu, mungkin mereka akan menganggap nama ini adalah akun personal atau seorang pribadi yang sedang patah hati. Bagi sebagian teman pula, Membutuhkanmu hanyalah sebuah nama yang ikut-ikutan alay sekedar pengen eksis.

Sesungguhnya, aku kurang setuju kalau Membutuhkanmu adalah milik satu orang pribadi dan juga pengen mejeng eksis aja. Ku lebih senang menyebut Membutuhkanmu sebuah grup, sebuah ‘proyek galau bersama’ dan jika proyek ini tidak pernah terjadi maka aku akan selamanya hidup di dalam lubang kemaluan. Ketika wacana proyek ini pertama kali diajukan, ada rasa ragu dan takut. Saat itu menjelang Babad Alas ke-4, Mas Abud dan Mas Aim mengajak untuk memusikkan puisi-puisi yang kubuat. Mereka berdua bak pencabut nyawa yang tiba-tiba datang dan bertanya, “Iyakan atau kucabut nyawamu sekarang!”. Kulangsung mengiyakan tanpa berpikir panjang. Seketika ketakutan-ketakutan mulai merangkak naik dari ujung kaki ke ubun-ubun kepala. Aaah! Dipikir karo mlaku!

Salah satu ketakutan yang paling besar hinggap di kepala adalah rasa minder untuk menampakkan puisi-puisiku kepada khalayak ramai. Ah! Puisi-puisiku tidak berarti apa-apa. Tidak bermakna dan dangkal. Di titik inilah aku merasa tidak pede! Unsur ketidakpedean yang lainnya adalah pengalaman bermusikku yang nol besar. Mungkin Abud, Aim, dan Kang Deri merasa jengkel karena suaraku yang jelek ataupun ketika suaraku tidak pas masuk ke aransemen :) maafkan daku teman-teman hehehe.

Sejujurnya, Ku tak pernah mempunyai tujuan untuk menampakkan puisi-puisi ke atas panggung dan ditonton oleh muka umum. Jika ada pertanyaan ‘kenapa kamu menulis puisi dan puisi itu kamu bagi lewat blog dan medsos lainnya itu untuk apa?’ Kujawab lantang: karena itu merupakan kesukaanku, tidak ada capaian khusus terhadap aktivitas itu. Kalaupun hasil di waktu depan berbeda, aku selalu menganggap itu sebuah berkah, sebagai pintu masuk ke area-area pertemanan yang baru.

Di tulisan ini, spesial ‘kan aku haturkan pengakuan dari palung hati. Ku sangat berterima kasih sekali, beribu-ribu rasa terima kasih untuk Andri William dan Lukman Hakim Adinegara. Entah disadari atau tidak, Mereka telah memancing emosi performku keluar dan menguji sejauh mana sikap beraniku dalam menyatakan sebuah karya. Kuakui juga, mereka berhasil mengeluarkan diriku dari kemaluan dan ketakutan yang mendera. (tapi diriku masih malu untuk mengajak kenalan cewek)

Berkat mereka berdua jugalah, aku mengalami suatu pengalaman estetik yang baru. Orgasme berpuisi di atas panggung. Berlenggak-lenggok semaunya. Merokok sesuka hati, menari-narikan kepulan asap. Yah, walaupun canggung masih memayungi setiap ujung gerak, tetaplah Membutuhkanmu adalah tempat pelampiasan yang baik bagi orang sok kesepian macam diriku.

Bagiku, Membutuhkanmu adalah ruang ekspresi di atas panggung, berupa pembacaan puisi dan iringan gitar serta kajon. Jika ada seseorang yang membacanya sebagai tempat pernyataan ideologi kelompok, ya, terserah saja. Aku menyatakan, Membutuhkanmu merupakan sikap bersenang-senang untuk merayakan semua keresahan dan kekalahan cinta yang pernah dialami oleh masing-masing personil :)

Akhirnyalah, harus kusudahi tulisan ini. Jika terlalu banyak kutakut berlebihan, dan jika berlebihan nantinya dimarahi agama. Wassalam!


Pentas pertama dalam acara Babad Alas #4 (Sumber visual: akun @BEMFSMR

Pentas ke-2 dalam acara Sewon Calling #3 (Sumber visual: diambil dari instagram Putud Utama)
Pentas ke-3 dalam acara Youth of Summer  (Sumber visual: diambil dari instagram Maria Antonia)

Pentas ke-4 dalam acara 3M Project #1

Pentas ke-4. Dari kanan ke kiri: Aim, Abud, Aku, Kang Deri (Sumber visual: Esza Parapaga)



Sabtu, 30 Maret 2013

Ke-ka-sih

Rasa tidak akan pernah ajeg. Kalaupun ada itu hal yang mustahil.

Rasa tidak akan pernah berhenti di satu posisi. Rasa akan selalu bergerak mencari titik-titik ketenangan, kenyamanan, keheningan, dan segala sifat-sifat menentramkan lainnya. Dengan proses sedemikian rupa, rasa akan selalu dihinggapi kegelisahan, kegundahan, dan kebimbangan, juga keraguan. Sebelum akhirnya menemukan posisi damai. Proses ini seperti roda berputar, rasa selalu mengalami tingkat kenyamanan sebelum akhirnya kembali ke tingkat paling pahit, dan seterusnya- dan seterusnya, selalu bergerak berputar.

Itulah alasan mengapa Gusti menciptakan dan memberikan seseorang pria atau wanita, yang dengan segala sifat maupun sikap-nya, mereka saling kasih- mengasihi, lalu saling menyematkan status diantara keduanya yang tak tervisualkan kata ataupun gambar, yaitu kekasih.

Kekasih, saling menyayangi, mengasihi satu sama lain, puncak proses pencarian jati diri, menyelami dan menemukan ketentraman rasa yang terus bergerak dan berlarian kesana kemari.

Kekasih, proses mencari kelemahan-kelemahan diri hingga akhirnya lahir sebuah sikap saling mengalah, saling memahami, juga saling bersabar demi memperoleh ketenangan-keheningan rasa.

31 Maret 2013
Di dalam kata-kata

Rabu, 02 Januari 2013

Membaca Lewat Foto


Dari waktu ke waktu penggunaan teknologi untuk mengaktualisasi diri semakin tinggi. Di era digitalisasi sekarang memungkinkan manusia untuk tampil ke khalayak. Salah satu medianya adalah jejaring sosial. Adanya media ini membuat orang-orang berlomba untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Facebook merupakan salah satu jejaring sosial yang digemari masyarakat kebanyakan. Ia seakan makanan wajib bagi orang-orang. Barangsiapa belum memiliki akun ini rasanya kurang mantab menjalani aktivitas sehari-hari.

Jejaring sosial ini memiliki fitur lengkap daripada lainnya. Ia memungkinkan kita untuk menambah dan menyimpan berbagai informasi atau identitas tentang kita. Mulai dari biodata, tempat untuk mengutarakan pendapat (baca: wall) hingga layanan mengarsip foto-foto. Seiring berjalannya hari bersamaan dengan aktivitas kita, mau tidak mau merangsang orang-orang untuk meng-update terus informasi tentang diri di dalam akun FB masing-masing.

Foto Profil Cerminan Diri
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Istilah umumnya, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Dunia ini sudah semakin canggih. Teknologi-teknologi paling anyar dihasilkan. Hubungan komunikasi lebih gampang. Memungkinkan kita untuk memperpendek waktu dan jarak. Rasa kangen seseorang terhadap seseorang lainnya kini tidak lagi harus ditempuh susah-susah. Hanya dengan mengakses internet, memiliki akun FB, dan berselancar di dalamnya, kita, setidaknya telah mengobati kerinduan yang mengendap.

Handphone berkamera, DSLR, smartphone, dsb yang dimiliki oleh para masyarakat Indonesia benar-benar dimanfaatkan dengan baik disini. Dengan alat-alat ini, seseorang dengan mudah mengambil gambar dengan segala pose dan latar belakang. Penggunaan teknologi perekam yang canggih tidak disia-siakan, apalagi oleh anak-anak muda jaman sekarang.

Keadaan ini mempengaruhi gaya hidup dan berpakaian anak-anak muda. Agar terlihat seperti yang dicitrakan akun FB-nya, mereka berusaha tampil modis dan selalu update “fashion hari ini”. Juga dalam berperilaku terkadang mereka terkesan memaksakan – menempelkan – citra gambarnya.

Foto profil seseorang di akun FB juga bisa menjadi pusat riset kecil-kecilan. Foto profil ini juga dapat memberikan kesimpulan kecil karakter seseorang. Dengan melihat “penampakan” gambar seseorang di akun FB seseorang, kita mengamati dan mencermati – mereka-reka – sifat atau kehidupan orang yang di investigasi.

Tetapi, di dalam facebook, kita tidak boleh secara instan dan mutlak melakukan justifikasi ataupun proses pelabelan. Disini kita tak bisa sepenuhnya mengetahui isi kepala seseorang tanpa melakukan proses dialog. Namun, secara garis besar, pemikiran seseorang itu dapat dilihat dari ideologi visualnya – meminjam istilah John Fiske.

Menurut pengamatan saya, visual seseorang di dalam FB sangat mempengaruhi orang-orang untuk mengunjungi akun FB-nya. Tetapi tidak semata-mata faktor fisik saja – walaupun ada orang-orang yang secara tegas memakai faktor ini dalam melakukan komunikasi – ada juga seseorang tertarik dengan foto-foto aktivitasnya.

Album foto, adalah yang sering dikunjungi orang-orang jika mengakses FB. Alasannya sederhana, proses pengenalan via dunia maya tidak hanya sebatas nama, tetapi juga harus memajang atau melihat foto seseorang. Dengan rumus ini, foto disini menjadi hal vital dalam mempengaruhi orang berkomunikasi.

Foto Pemicu Kreatifitas
Secara mendalam, foto profil facebook atau kumpulan-kumpuan foto yang di upload merupakan obat penumbuhkembangan ide. Dalam hal ini merangsang ego kita untuk bergerak. Ego untuk berusaha menyaingi sesuatu yang dilihatnya – visual foto. Rasa tidak mau kalah, dalam artian positif, muncul begitu saja ketika kita “mengunjungi” akun FB seseorang.

Seperti yang saya kemukakan diatas, zaman teknologi sekarang telah mempengaruhi kehidupan anak muda. Mulai dari gaya berpakaian, kebiasaan, maupun ideologi pikirannya. Facebook adalah salah satu alat indikasi untuk mengetahui sifat-sifat orang. Juga merupakan sebuah media penumbuh kecemburuan yang ampuh.

Bagaimana tidak? Banyak orang yang tergerak hatinya untuk lebih menunjukkan siapa dirinya setelah “berselancar” di FB. Dan berlomba-lomba untuk meng-upload sebanyak-banyaknya foto dirinya atau bersama kawan-kawannya. Tak lain dan tak bukan hanya ingin membuktikan bahwa dirinya ada. Eksis.

Bukti eksistensi yang berupa foto di dalam FB semakin menjadi-jadi. Sekarang, tidak sahih rasanya jika jalan-jalan tanpa potret-memotret. Tanpa mendokumentasikan acara.

Tetapi, jika kita terlalu berlebihan dalam menerima produk budaya ini akibatnya fatal juga. Meng-upload foto paling pribadi, menulis segala informasi yang bukan konsumsi publik, dan menginformasikan secara serampangan perihal pribadi kita mengakibatkan image buruk bagi kita. Dan lebih parah jika kita meng-upload yang bukan milik kita dan bersifat rahasia, bisa-bisa kita dituntut atas dasar pencemaran nama baik seseorang. Tapi apakah itu akan terjadi? Mungkin ya, mungin tidak. Tergantung keseriusan calon pelapor sih.

Facebook – yang merupakan produk budaya asing - dengan segala fitur, manfaat, dan dampaknya sudah menjadi “kebiasaan” baru di masyarakat. Kita tak perlu ketakutan dan lari tunggang langgang. Yang kita perlukan adalah mencermati dan membuat celah. Menjadikan facebook museum arsip pribadi atau sekedar pasar malam semata. Tetapi yang pasti, jangan sampai kita diperalat olehnya. Apalagi menjadikannya semacam sesembahan di dunia.

Sekian!

Kotak Ajaib Keluargaku


Kotak ajaib itu bernama televisi. Kotak berwarna berisi gambar-gambar gerak. Berisi dialog dan pergerakan-aktivitas manusia. Baik yang direncanakan ataupun tidak. Dia menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia di muka bumi.

Televisi. Dunia khayalan bagiku. Kehidupan ideal yang ku idam-idamkan. Menjadi seperti aktor di dalam film-film televisi. Punya pacar, ganteng, dan kaya raya. Berkenalan dengan gadis, tanpa proses panjang dan dengan gampang langsung menuju ranjang.

Atau, kubayangkan diriku menjadi seorang anak band. Tanpa proses panjang dan dengan lagu-lagu pop romantis membius para gadis dan menjadi terkenal. Memakai pakaian dan gadget mahal produk asing. Membelanjakan uang bersenang-senang di kafe elit atau menghabiskan malam bersama gadis sewaan di diskotik bangsawan.

Enaknya menjadi masyarakat televisi, ingin ku hidup di dalamnya. Mencari banyak gadis lalu menikahinya, menjadi poligami tanpa ada tendensi kaum-kaum agamis. Sesudahnya membuat rumah diatas gunung, untuk kesehatan anak-anakku yang banyak, dan keturunan-keturunanku, nantinya akan menurunkan dinasti-dinasti dari seorang ayahnya yang bijak nan rupawan seperti pangeran Inggris.

Hidup tanpa agama juga bisa di dalamnya. Tidak ada aturan tumpang tindih. Bebas-sebebasnya tanpa dogma. Juga tak perlu repot membelanya mati-matian sampai mati, sampai perang. Dengan hidup sebebas-bebasnya tanpa batas, aku bisa hidup tenang mencari tempat tinggal di sudut kota Palestina ataupun Israel.

Hidup bebas. Hidup luang selamanya. Uang tiada habis. Aktivitas tiada mengikat. Aku benar-benar dapat berjalan-jalan kemana saja. Melintasi benua, mengarungi laut. Menembus hutan, mendaki gunung ke banyak penjuru negara. Lalu menyelam ke kedalaman paling dalam lautan-lautan di berbagai laut. Menjadi MAPALA sesungguhnya!

Tapi itu semua hanya khayalan, Cuma imajinasi saja. Khayalan jika benar-benar masuk ke dalam dunia televisi. Hidup didalamnya.

Itu semua tidak mungkin terjadi. Saya hanya melakukan pengandaian dan menelaah bagaimana dampak terlalu banyak menonton acara-acara televisi. Orang-orang cenderung tersugesti, hati terasa didorong tidak sadar setelah selesai menonton acara-acara kotak ajaib itu. Tergerak untuk melakukan apa-apa yang dilihatnya dari televisi. Terngiang terus di kepala apa-apa yang dilihatnya di televisi.

Tetapi tunggu dulu, terlalu banyak menonton acara-acara televisi yang bagaimana dulu? Tentu jika terlalu banyak tontonan positif maka baik-baiklah orang itu. Tetapi jika sebaliknya? Mungkin baik, mungkin tidak. Tergantung moral bagaimana yang orang itu punya.

Baik buruknya kualitas program televisi, menurut saya, bukan berdasar dari pendapat orang per orang. Program televisi, baik-buruk, dapat dicari menurut konteks waktu. Maksudnya begini, anak-anak tidak mungkin menonton acara dewasa – seperti talkshow hubungan istri-suami – pada dini hari. Seharusnya anak-anak sudah tidur saat itu. Menurut waktu, acara itu dikhususkan untuk umur diatas 17 tahun alias sudah akil baligh. Tapi masalah selanjutnya adalah, siapa yang harus bertanggung jawab? Orang tua? Apa pihak televisi yang seharusnya disalahkan?

Apakah acara tinju baik bagi anak-anak? Apakah acara talkshow baik bagi anak-anak? Apakah acara yang berbau seks dan kekerasan baik untuk anak-anak? Dll. Semua kembali kepada pengawasan dan kontrol waktu yang ketat oleh pihak orangtua – solusi terakhir ketika KPI hilang keberaniannya.

Di posisi seperti ini, televisi selalu dikambinghitamkan. Dan dengan kejadian seperti ini televisi sampai detik ini, oleh para kaum intelektual dan akademis selalu menjadi objek kesalahan. Padahal, pihak orangtualah yang menurut saya bertanggung jawab jika ada suatu persoalan seperti diatas.

Pernyataan bahwa dewasa ini program-program televisi tidak bermutu adalah sesuatu yang salah kaprah dan hanya mementingkan satu sudut pandang saja. Tidak berpikir zig-zag – meminjam istilah CakNun – alias mempunyai sudut pandang banyak. Memikirkan lebih dalam lagi isu-isu mengenai televisi ini adalah hal mutlak bagi para akademisi. Tidak terkecuali saya.

Coba kita amati perihal apa dan bagaimana pendapat orang-orang mengenai tayangan sinetron. Pernahkah pada jam-jam penayangan sinetron kalian amati dan cermati di setiap sudut rumah ataupun warung-toko di setiap penjuru kota maupun tetangga-tetangga kalian yang menonton sinetron? Atau pernahkah kalian memergoki ibu kalian menonton sinetron?

Lalu coba ajak dialog mereka. Tanyai pendapat mereka tentang sinetron. Hasilnya pasti mengejutkan kalian, diluar ekspektasi kita. Jujur, saya tidak tertarik sama sekali dengan sinetron, tetapi harus diakui pula bahwa untuk sebagian ibu-ibu dan anak-anak, sinetron menjadi tayangan favorit. Kenapa? Kebanyakan para ibu mudah mencerna tayangan itu karena alur cerita yang ringan dan sederhana.

Inilah fakta. Tidak dapat dipungkiri. Sinetron telah menjelma menjadi sebuah kerajaan megah namun merakyat. Dan menjadi arena rekreasi akibat keresahan dan kesusahan ekonomi yang terus menerus melanda rakyat kecil. Lalu, apakah kita masih setia memakai satu sudut pandang? Dalam hal ini sudut pandang subjektif kita?

Televisi merupakan karya yang luar biasa hebatnya di dunia. Penemuan televisi mengakibatkan kemajuan yang luar biasa bagi peradaban manusia. Sistem komunikasi dan informasi tidak lagi dilakukan dengan cara-cara kuno. Hanya dengan mengakses internet, handphone, atau melihat tayangan program televisi, semua informasi dan komunikasi dapat dengan mudah diterima.

Tetapi jika tidak hati-hati dapat pula manusia terjerumus ke dalam efek-efek negatif penggunaan teknologi elektronik tersebut. Penggunaan secara berlebihan tanpa aturan menyebabkan manusia lupa akan peran sosial di masyarakatnya. Penggunaan teknologi elektronik dibutuhkan strategi khusus untuk menciptakan hubungan yang baik antara manusia dan barang-barang elektronik tersebut.

Di dalam keluarga saya, kotak televisi ditempatkan di ruang keluarga. Fungsinya adalah agar mudah diawasi dan mudah dikontrol. Menonton televisi dilakukan setiap hari oleh setiap anggota keluarga. Menonton televisi secara bersama-sama tidak wajib dilakukan di keluarga saya, karena setiap pribadi mempunyai kesukaan yang berbeda. Tidak mungkin dipaksakan. Bapak, Ibu, Kakak, Adik, dan saya memiliki program acara favorit sendiri-sendiri. Terkadang waktunya bentrok untuk melihat acara favorit setiap pribadi. Yang akhirnya hanya berujung pertengkaran dan niat untuk menonton hilang begitu saja.

Televisi adalah simbol toleransi, hemat saya. Televisi ditempatkan di ruang keluarga bukan tanpa sebab. Di ruang keluarga selalu tercipta suasana hangat dan ruang-ruang diskusi. Disitu televisi mempunyai peran penting. Tayangan yang ditonton mencerminkan diri kita. Mencerminkan sikap dan perilaku kita di luar rumah. Mencerminkan pula bahan pelajaran apa saja yang didapat di luar rumah. Secara otomatis tayangan televisi setiap pribadi akan berbeda. Itu dipengaruhi juga dengan lingkungan pergaulan sehari-hari kita. Dan dengan perbedaan itu semua, apakah kita sanggup untuk hidup rukun dan saling menghormati?

Sekian.

Rabu, 26 Desember 2012

Katalog : Cara Pandang Membaca Otak Seniman


Penghujung tahun seperti biasanya Yogyakarta dibanjiri oleh berbagai acara-acara kesenian berbagai macam disiplin ilmu. Diantara semua kegiatan kesenian, saya mengunjungi sebuah pameran seni rupa bertajuk “My Existence” karya Sutrisno di Bentara Budaya Yogyakarta 15 – 23 Desember 2012 dan pameran fotografi “Meminjam Mata dan Melihat Ruang” karya Fehung di Kedai Kebun Forum 20 – 15 Januari 2013. Mereka berdua sama-sama pernah menimba ilmu di ISI Yogyakarta. Sutrisno lulus tahun 2010  FSR jurusan seni murni dan Fehung lulus tahun 2012 FSMR jurusan fotografi. Mereka juga sama-sama berpameran secara tunggal di akhir tahun ini.

Ada persamaan mendasar antara karya Sutrisno maupun Fehung ini. Yaitu mereka berangkat dari pengalaman sehari-hari. Persoalan keseharian yang mereka dapat mengilhami karya-karya yang mereka pamerkan. Dua orang ini – dengan melihat  karya-karyanya, merespon keadaan sekitar yang kadang orang-orang lain mengacuhkannya. Sutrisno dengan teknik cukil dan hand colouring banyak merespon kehidupan sosial masyarakat serta masalah ataupun potret keseharian orang-orang di dalamnya. Karyanya dengan judul Together adalah salah satu yang menyentuh. Terlihat dua orang perempuan memandikan bayi – entah perempuan yang mana ibunya bayi itu. Perempuan yang satu duduk diatas kursi kecil dan satunya jongkok. Tampak pula senyum riang perempuan yang memandikan anak itu. Aktivitas itu tidak terjadi di dalam kamar mandi ataupun di dalam rumah melainkan di tengah jalan – sepertinya di depan jajaran toko atau lapak, dikuatkan dengan visual sesosok orang yang berjalan dan dua anjing di dekat aktivitas itu.

Aktivitas intim ini setidaknya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan pengamat politik atau ekonomi tentang dampak-akibat suasana kacau-balau negri. Yaitu mengenai suasana chaos dan antisosial, yang tidak terbukti berdampak luas. Juga membuktikan bahwa teori tidak selamanya berbanding lurus dengan keadaan di lapangan. Salah satu faktor yang menepis segala prasangka diatas adalah ikatan batin manusia, merujuk pada satu pusat kelahiran dan proses penciptaan yang sama. Deskripsi ini disimbolkan dengan seorang bayi. Bayi sebagai antitoksin supaya tidak rusuh dan terus gelisah pusing memikirkan nasib. Bayi juga simbol kehidupan bersih nan suci. Dengan melihat bayi – atau bersentuhan langsung (memandikan) orang-orang tidak lagi memandang remeh kehidupan, bahwa kehidupan layak diperjuangkan. Bahwa tidak ada gunanya berkeluh kesah apalagi hidup saling merugikan. Bayi adalah refleksi diri juga cerminan kehidupan ideal komunitas manusia global, damai dan hidup rukun. Karya diatas seakan cuek terhadap panggung retorika para politikus. Memberitahu juga bahwa media massa khususnya televisi terlalu melebih-lebihkan masalah. Hingga orang-orang yang menonton televisi merasa terancam, dibodohi, dan dihantui oleh kabar menyesatkan. Kabar yang tidak sesuai kenyataan di masyarakat. Berita tentang kerusuhan, kemiskinan, kekhawatiran, dan isu-isu provokatif yang sengaja dibuat untuk kepentingan ekonomis segelintir orang atau penguasa.

Begitu pula dengan karya Fehung. Menggunakan media fotografi, Fehung merekam dengan cahaya objek yang ditemui di kesehariannya. Ia memotret toko sandang, buah-buah, toko kijing, dan lain-lain. Tetapi yang membuat pameran ini berbeda adalah kita dipaksa untuk menjadi orang yang bersudut pandang sebagai penjaga ataupun pemilik tempat yang di potret. Dengan hanya menyisakan latar depan sebagai bingkai dan menghilangkan latar belakang foto, Fehung seakan mengajak kita berjalan-jalan di dunia imaji. Mengajak supaya kita dapat berperan dan bagaimana rasanya bukan menjadi diri kita – memposisikan diri sebagai liyan sesuai dengan profesi pekerjaan di dalam foto-foto tersebut. Mengajak kita untuk lebih mengenal sifat dan menjalin hubungan dialogis kepada sesama. Seringkali orang-orang mudah terpancing emosi gegara saling beradu pendapat. Atau yang lebih sepele lagi, orang-orang mudah marah main pukul hanya karena saling pandang. Itu tak lebih dari sifat egois manusia yang tidak menjalin dialog. Cobalah ketika kita mengedepankan dialog. Pasti segala prasangka buruk akan sirna.

Fehung dan Sutrisno sudah mengingatkan kita. Karya Fehung mengedepankan dialog dan Sutrisno yang mengajarkan melihat setiap persoalan dengan jernih dan positif. Mereka berdua sukses mengangkat tema-tema ringan dengan tidak meninggalkan esensinya. Kehidupan sehari-hari masyarakat dikemas apik dan artistik dalam kedua pameran tersebut.
Sayangnya ada satu aspek pendukung pameran yang belum digarap maksimal oleh mereka. Yakni katalog. Coba kita cemati satu per satu. Katalog mereka mempunyai format berbentuk leaflet. Satu kertas dilipat menjadi beberapa bagian. Setiap satu halaman penuh gambar maupun tulisan. Saya tidak akan mengkritisi isi di dalam katalog mereka. Bagi saya di dalamnya sudah mewakili pameran yang mereka angkat. Mengenai ideologi ataupun tujuan mereka dalam berpameran. Disini saya akan menulis sampai sejauh mana katalog mereka dapat menghidupi dan dihidupi oleh orang-orang yang memiliki, mempunyai. Artinya bagaimana katalog itu dapat berbicara sendiri diluar kegiatan pameran yang berlangsung. Dapat berdiri sendiri sebagai tangan kanan yang panjang bagi pemikiran mereka berdua. Yang seharusnya dikemas bukan saja ringan, efisien, dan hemat tetapi juga bagaimana dalam membuat katalog – dalam bentuk dan format bisa bertahan lama dan patut ditempatkan pada jajaran rak buku level atas.

Aspek fungsi katalog setelah acara pameran belum menjadi wacana yang penting. Padahal, katalog, yang mungkin tidak disadari adalah tubuh kedua yang terus hidup untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan. Seperti apa yang ditulis Mikke Susanto dalam Menimbang Ruang Menata Rupa: Katalog – kumpulan tulisan, foto, dan data arsip sebuah pameran juga tak ubahnya sebagai ruang dialog antara berbagai pemahaman yang dimiliki pembuat dan pembaca. Dari sana terbaca atau menjadi semacam peta bagi penonton agar tak tersesat dalam memahami karya seni rupa yang dipamerkan. Dan sekaligus menjadi siasat penyelenggara untuk menghindari kebekuan terhadap pencitraan-pencintraan karya dari makna dan nilai pentingnya kehidupan.

Secara keseluruhan, katalog disini masih dikemas sembarangan. Fehung memamerkan karya fotografinya. Sutrisno dengan karya seni rupanya. Tetapi dengan katalog yang sama secara bentuk dan isi, bagaimana penonton dapat membedakan dengan tepat dan jelas kedua pameran itu (ini untuk masyarakat awam). Juga saya merasa kasihan kepada katalog ini, katalog yang dikemas berukuran persegi dan dilipat sedemikan rupa menjadi beberapa bagian, yang menurut saya itu merupakan katalog yang belum matang. Ibarat benda yang belum matang, dia mungkin saja hanya tergeletak di bawah meja, dibawah tumpukan kertas-kertas gagal print, atau lebih parah di dalam tempat sampah, karena orang-orang urung merawat dan membaca arsip pameran tersebut. Katalog bisa bertahan lama di tangan kedua jika pengemasan lebih menarik. Visual yang indah nan cantik. Juga bahan kertas dan format yang memungkinkan katalog itu bertahan lama, berfungsi sebagai dokumen dan arsip pribadi.

Akhirnya, semoga wacana mengenai katalog ini mendapat respon oleh para seniman. Agar lebih digarap maksimal dan mempunyai visi ke depan. Sebagai sebuah media perpanjangan ide dan pemikiran ke sebuah tangan yang baru dan awam. Sebagai media pengingat bahwa tanggal sekian bulan sekian tahun sekian pernah diadakan pameran si x di x. Juga menjadi jendela yang di dalamnya terdapat seorang seniman yang besar karena pemikirannya. Dengan kesadaran seperti itu, tidak mungkin tidak sebuah keindahan dan kebaikan akan menyebar di hati sanubari masyarakat luas.

Rabu, 31 Oktober 2012

Ini opini saya...



Proses interaksi sosial sangat dibutuhkan dalam proses berkesenian. Mahasiswa seni dalam berkehidupan tidak dapat dipisahkan oleh proses ini. Proses ini juga merupakan media bagi para mahasiswa seni untuk mendapatkan inspirasi dan lebih lanjutnya merupakan tahapan untuk mengenal lebih dalam siapa diri mereka. Dalam kegiatan untuk mencari inspirasi untuk menghasilkan karya yang baik hal pertama yang harus dilakukan adalah proses pencarian bahan-bahan. Materi-materi itu tidak mungkin didapatkan jika manusia hanya berdiam saja. Manusia perlu melakukan komunikasi antar sesama. Turun mendekatkan diri kepada komunitas-komunitas masyarakat. Memasuki pergaulan seluas-luasnya di berbagai lapisan masyarakat. Dengan kegiatan seperti itu, mahasiswa seni dapat meningkatkan unsur kepekaan dan pintar mengolah rasa emosi di dalam diri. Kegiatan turun langsung di dalam masyakarat tersebut juga menyelaraskan dan menyeimbangkan pola pengembangan pengetahuan dan wawasan. Tidak melulu dengan melihat dan mencari referensi melalu media massa atapun internet. Tapi juga dengan pengalaman empiris. Di dalam melakukan proses interkasi sosial diatas terdapat beberapa faktor yang berpengaruh yaitu imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati.
Imitasi
Setiap orang pasti memiliki sosok idola. Dan setiap manusia yang memiliki tokoh idola cenderung meniru setiap penampilan visual dan gaya hidup si idola. Tokoh idola itulah yang merupakan kiblat manusia dalam berpakaian, bergaya rambut, dan sebagainya. Disini peran media massa dan lingkungan sangat berpengaruh. Dua media tersebut berjasa penting terhadap proses pengenalan para tokoh.
Sugesti
Merupakan kata yang diambil dari bahasa Inggris. Suggest artinya memberi saran. Suggestion artinya mengacu pada pikiran. Menurut KBBI sugesti sendiri adalah anjuran, saran, dorongan atau pengaruh yang dapat menggerakkan hati orang. Seorang mahasiswa seni tidak boleh melupakan tahap ini. Mahasiswa seni memerlukan saran, anjuran dan pendapat dari orang lain yang sesuai kebutuhan disiplin ilmu mahasiswa tersebut. Seorang mahasiswa juga harus berani untuk memasuki dunia pergaulan yang baru dan menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari tempat itu. Omongan-omongan orang lain juga tidak boleh diterima secara mentah dan dipercaya begitu saja. Tetapi, jika ingin tahu bagaimana rasanya merokok kenapa tidak dicoba? Atau jika ingin tahu bagaimana rasanya berkelahi kenapa diam saja dan tidak mencari gara-gara? Begitulah.
Identifikasi
Adalah proses untuk menjadi sama atau identik dengan tokoh idolanya. Berbeda dengan imitasi, proses ini tidak sekedar meniru secara visual. Tetapi mengidentikkan diri hingga unsur kejiwaannya. Seorang mahasiswa seni dalam proses ini meniru dan mengadaptasi sampai ke ideologi dan kebiasaanya. Apa kegiatan favorit. Apa pandangan politiknya. Bagaimana sikapnya terhadap bangsa. Apa buku yang dibacanya. Misalnya, seseorang yang fanatik mengidolakan Bob Marley ia akan berpenampilan seperti Bob Marley tidak hanya secara visual saja tetapi juga pandangan dan sikap hidupnya.
Simpati
Dalam berkarya, mahasiswa seni membutuhkan dasar pijakan sebagai alat atau media pendukung dalam menguatkan narasi ataupun mengiyakan setiap pemikiran dan perilakunya. Itulah alasan kenapa orang-orang bersimpati. Coba bayangkan jika karya si A tidak sesuai dengan pemikiran kita atau omongan si B tidak sesuai dengan pandangan hidup kita, apakah kita simpati? Sekian.

Rabu, 26 September 2012

Kenangan yang Tersisa Diantara Lembaran Lembaran Baru


Saya termasuk orang nomaden. Sering berpindah tempat alias rumah tinggal. Dalam kurun waktu 16 tahun saya sudah berpindah rumah tiga kali. Sebagai seorang anak saya tidak bisa berbuat banyak mengubah jalan pikiran orangtua. Hanya pasrah dan mengikuti kemauan orangtua. Dengan perasaan berat hati saya meninggalkan tempat lama dan bersiap adaptasi dengan lingkungan tempat tinggal baru. Sejak pertengahan tahun 2011 kami sekeluarga sudah menempati rumah baru di daerah Nanggulan, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Di tempat baru inilah saya mencoba belajar menyesuaikan diri layaknya anak-anak belajar sepeda roda dua. Sebelum benar-benar jiwa saya berpindah tempat, saya akan menceritakan kisah kenangan ataupun pengalaman manis saat berada di rumah pertama dan kedua, untungnya jarak antar dua rumah ini saling berdekatan hanya dibatasi oleh lingkungan masjid sehingga saya benar-benar memiliki sebuah cerita yang kompleks dan berkesan. Saat masih berada di Minomartani, tempat tinggal pertama dan kedua, saya duduk dibangku TK sampai dengan kuliah masuk tahun kedua. Direntang waktu yang cukup panjang tersebut saya akan membagikan pengalaman dan ingatan-ingatan menarik kepada para pembaca.
Banyak pengalaman dan pengamatan yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari disana. Baik saat bersama keluarga, teman bermain, dan institusi keagamaan. Saya akan menceritakan satu persatu tiga bagian diatas, dimulai dari keluarga. Saya hidup dalam suasana serba agamis. Di keseharian selalu melekat doktrin agama. Orangtua saya cukup keras dalam memerintahkan bersembahyang sholat lima waktu ataupun hal-hal yang berkaitan dengan agama. Tidak dengan kekerasan fisik tetapi hanya memainkan intonasi suara saja. Jika adik dan kakak lupa sembahyang, maka mereka akan menjadi bulan-bulanan omelan orangtua saya. Apalagi saya, hampir setiap hari orangtua saya menasihati anaknya yang bandel ini supaya rajin beribadah. Aktivitas ini masih setia dilakukan orangtua saya sampai detik ini. Huh! Betapa merepotkan saya. Ada pembelajaran unik dan menggiurkan pada waktu itu, yaitu saat puasa ramadhan orangtua saya menjanjikan uang seribu rupiah tunai untuk setiap satu hari puasa penuh. Sungguh saya sangat bersemangat pada saat itu. Berlomba-lomba mencari kebaikan dan keuntungan! Bayangkan jika puasa penuh 30 hari pasti akan mendapatkan uang 30 ribu rupiah yang pada saat jaman seusia SD sudah terhitung lumayan banyak untuk jajan. Untuk para orangtua yang memiliki dan ingin membiasakan puasa anak-anaknya silakan mencontoh orangtua saya. Terbukti ampuh! Tidak cukup pembelajaran dalam lingkup rumah saja saya diajarkan ilmu agama. Orangtua saya memercayakan ketiga anak-anaknya untuk menimba ilmu di sekolah dasar berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah orangtua orang Muhammadiyah apa tidak. Atau mungkin NU. Dulu saya pernah menanyakan kepada bapak saya dan jawabnya singkat dan marem : “ Muhammadiyah NU podho wae, ora ono bedone”. Oke, saya setuju.
Masa kecil adalah surganya masa saat anak-anak bebas bermain dan mengeksplor hal yang ada. Bersikap liar dan luar biasa. Saya sangat menikmati masa ini. Kelompok teman bermain pada rentan waktu 1998 – 2003 (masa SD) merupakan kelompok bermain yang banyak menikmati dan merasakan permainan dari apa dan darimana saja. Kenapa? Karena rentan waktu pada saat itu merupakan masa peralihan zaman orba ke reformasi. Disatu sisi kami masih merasakan permainan tradisional dan di sisi lainnya kami memainkan permainan dan disuguhi hiburan anak-anak dari mancanegara, yang saat itu lambat laun mulai masuk Indonesia. Dua sisi ini walapun berasal dari berbeda latar tetapi mempunyai kesamaan erat yaitu keduanya memiliki orientasi sama, hiburan untuk anak-anak dan mereka menjalankan fungsinya dengan sangat baik. Tanpa menghilangkan esensi bermain. Saya akan memulai dari bagian tradisional terlebih dahulu. Dulu saya dan teman-teman sangat gemar melakukan permainan bercorak lokal. Diantaranya yang masih saya ingat adalah nekeran, benthik, gamparan, boi-boinan, petak umpet, sobak sodor, pistol-pistolan dengan pralon dan balon, tulup pring, jamuran, cendhak ndodhok, dadi patung, dan lain sebagainya. Apakah kalian masih ingat dengan permainan diatas? Masih ingatkah cara memainkannya? Hal paling seru adalah ketika selesai bermain pasti ada pihak yang menang dan kalah. Lucunya, saat ada yang kalah biasanya ia tidak terima dan seringkali kedua anak tersebut udur-uduran hingga paling parahnya jika tidak ada yang mau mengalah berujung saling tonyo. Jika kamu pihak yang berhasil membuat temanmu menangis artinya kamu telah menjadi seorang satria. Tapi tidak berhenti disitu, dan jika temanmu sambil menangis pulang ke rumah dan memberitahukan kejadian kepada bapaknya, kamu berhak memanggil temanmu dengan panggilan anak cengeng!. Setelah kejadian itu dijamin kamu akan dihargai oleh sesama temanmu. Sungguh saya rindu masa lalu.
Dahulu ada dua musim yang selalu ditunggu-tunggu saya dan teman-teman yaitu musim layangan dan musim petasan. Saat datang musim layangan, tepatnya jatuh bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia, langit angkasa di sekitar rumah meriah dengan berbagai bentuk dan warna-warni layangan. Para tua-muda dengan riang setiap sore menerbangkan layangan. Baik layangan buatan sendiri ataupun produk jadi. Ada keunikan sendiri dalam bermain layangan di tempat tinggal saya. Jika layangan terdapat tempelan ekor, biasanya ditempel di bagian bawah dan berbahan koran atau bahan-bahan ringan lainnya, itu pertanda bahwa sang penerbang layangan tidak berniat untuk menarungkan layangannya. Sementara lainnya harus menghormati layangan tersebut. Semua kesepakatan ini merupakan aturan tidak tertulis yang entah datang dari mana. Meskipun demikian, aturan tersebut ditaati oleh semua penerbang layangan. Bagi yang tidak menerbangkan layangan juga tidak ketinggalan untuk ber-euphoria pada musim ini. Orang-orang yang tidak menerbangkan layangan biasanya hanya akan menunggu layangan gabul atau putus dari benangnya akibat saling bergesekan senar satu dengan yang lainnya. Mereka hanya tinggal duduk dan menunggu momen, mereka akan berhamburan saling kejar-mengejar jika ada layangan putus. Dengan suka cita dan semangat menggebu mereka berlari adu kecepatan kaki. Barangsiapa lebih cepat maka ia akan mendapatkan layangan putus dan barangsiapa yang lebih banyak mendapatkan layangan putus maka ia dengan sendirinya dicap sebagai anak terkuat dan terlincah dari semua orang-orang yang ikut dalam misi pengejaran tersebut. Begitulah permainan layangan, simbol kehormatan dan kemenangan bagi anak-anak desa seperti kami.
Lain musim lain cerita. Pada musim petasan juga tidak kalah seru. Musim petasan berlangsung sebulan penuh saat bulan Ramadhan. Dahulu penjualan obat petasan masih bebas dan mudah dijangkau bagi semua orang tidak seperti sekarang. Dengan kemudahan akses, kami membeli obat petasan dan membuat petasan seperti yang kami inginkan. Petasan yang sering kami buat diantaranya bentuk tabung memanjang (leo) dan segitiga (sempe). Dua bentuk ini merupakan petasan yang mempunya daya ledak tinggi dan menimbulkan suara menggelegar. Namun begitu kami tidak sembarangan menyulut petasan tersebut. Ada waktu-waktu dan tempat tertentu yang sengaja kami pilih untuk menyalakan benda itu. Waktu favorit kami biasanya dilakukan setelah ritual sembahyang shubuh dan tempat yang kami pilih adalah jalan-jalan utama di desa yang kanan-kirinya merupakan areal persawahan warga. Di jalan utama tersebut juga banyak orang-orang melakukan jalan-jalan pagi setelah sembahyang sholat. Suara petasan tidak sebaliknya membuat marah para warga namun suara tersebut banyak menarik perhatian orang-orang yang melintas di jalan itu. Bahkan ketika petasan habis, banyak juga orang-orang mengeluh kecewa. Begitulah tradisi petasan disetiap ramadhan tiba. Tanpa petasan ramadhan tiada artinya, katanya. Ada juga tradisi membunyikan long bumbong (terbuat dari sebatang bambu). Permainan ini juga tidak kalah menarik dibanding petasan. Permainan ini, selain murah meriah juga merupakan teman saat menunggu berbuka puasa tiba. Saking senangnya bermain di bulan ramadhan saya sering lupa mendatangi pengajian dan banyak meninggalkan berbagai macam sembahyang. Akibatnya, saya sering membuat laporan dan memalsukan tanda tangan ustadz. Yah, apapun saya lakukan demi nilai terbaik, demi terpenuhinya semua tabel di dalam buku panduan ramadhan sekolah saya.
Hiburan dari mancanegara yang masih saya ingat sampai sekarang antara lain, menonton acara kartun minggu pagi sampai siang hari. Praktis pada setiap hari minggu jarang sekali ditemui anak-anak bermain di luar rumah dan ekses seperti ini banyak sekali manfaatnya, khususnya bagi si orangtua dan anak. Saya mempunyai pengalaman menarik berkaitan dengan hal tersebut. Persahabatan kami bertambah erat setelah menonton acara kartun, kami membahas setiap cerita kartun yang ditayangkan. Tidak ada yang terlewat satu pun kartun di minggu pagi yang kami bahas. Anak yang dapat menguasai isi cerita kartun paling banyak ialah anak yang paling pintar dan cerdas. Bayangkan betapa banyaknya kartun yang ditayangkan dan bagaimana bisa kami melihat setiap kartun yang ditayangkan disetiap televisi padahal kartun-kartun favorit bersamaan jam penayangannya disetiap stasiun televisi. Berbagai cara kami lakukan salah satunya dengan cara bergantian menonton kartun disetiap channel stasiun televisi. Jadi, tidak ada sama sekali kartun yang kami tonton dari awal sampai akhir. Ini semua hanya demi terlihat sebagai anak yang paling paham. Acara televisi produk manca lainnya yang populer pada saat itu adalah Amigos, setelah pulang sekolah saya langsung menyalakan televisi. Tidak boleh satupun adegan yang terlewatkan. Alasannya persis sama seperti diatas. Isi film akan menjadi bahasan pembicaraan utama di kelas-kelas. Bahkan saya juga sempat mengoleksi kertas binder dan segala jenis pernak-pernik berkaitan dengan film tersebut. Sungguh saya tertawa malu saat menulis bagian ini. Berbicara mengenai barang-barang koleksi, saya sempat membuat dompet orangtua saya kembang kempis tidak stabil dikarenakan saya termasuk anak korban iklan. Saya banyak membeli snack ringan hanya untuk mengoleksi barang-barang hadiah dari makanan itu. Dimulai dari gambar-gambar pokemon, gambar-gambar digimon, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk mengoleksi barang-barang tersebut. Saya juga bingung mengapa dulu saya giat mengoleksi hadiah snack itu. Apakah anak-anak memang rentan terhadap praktek hipnotis?
Hari berganti hari otomatis usia juga semakin banyak. Hal ini memengaruhi pola pikir saya dalam kehidupan keseharian. Di bangku SMP saya aktif berkegiatan di dalam organisasi remaja Islam masjid di lingkungan tempat tinggal. Banyak pengalaman organisasi yang saya dapat. Seperti bagaimana cara membuat acara keagamaan, mengkoordinasi kegiatan kerja bakti, bagaimana cara dakwah Islam yang baik dan santun, dan sebagainya. Di usia ini saya sadar betul bahwa saya hidup di lingkungan yang heterogen. Mempunyai berbagai latar belakang SARA yang berbeda-beda. Dibutuhkan sikap toleransi dan saling menghargai antar sesama. Untung para sesepuh desa merupakan orang-orang bijaksana dan mampu menularkan sikap bijaknya terhadap semua warganya. Dengan semua sikap dan nilai-nilai yang ada, wilayah saya aman dari bentrokan-bentrokan baik bersifat vertikal maupun horizontal.
Sekian!