Karya: Damar Rakhmayastri dan M. Erlangga Fauzan
Darimana datangnya rasa ini.
Yang tiba-tiba memunculkan kenangan-kenangan lama.
Kugelengkan kepala untuk mengatakan tidak pada kenangan-kenangan itu.
Tapi sebagian dari diriku terus mengiyakan.
Mengiyakan untuk tidak.
Tidak pada kenangan yang menenggelamkan.
Langkahku sudah pasti.
Setidaknya itu yang ada dalam benakku.
Ya, hatiku berkata pasti.
Tapi aku tak yakin seberapa lama lagi ia akan bertahan.
Cumbu dan rayu seketika menyeruak setelah ku buka mata.
Bagai virus ia membelah diri.
Cumbu itu mencoba merayu.
Memaksa tarianya masuk dalam pikiranku.
Merasuk ke tiap pembuluh darah, mengakar hingga belulang.
Masih mencoba berdiri walau goyah.
Ah, aku tak mau mengingat lagi.
Tentang seseorang yang mengingkari kesetiaan.
Masalalu, kenapa kita tidak sepaham dalam waktu?
(Dalam Dunia Maya, 20 Juni 2012)
--------------------------------------------------------------------------------
Sebuah proyek kecil dari obrolan ringan di jejaring sosial : Sebuah puisi kolaborasi.
Sungguh rumit untuk menuliskan sesuatu bukan untuk satu pikiran saja.
Menggabungkan dua pikiran dalam satu puisi merupakan sesuatu yang seru!
Kapan-kapan lagi ya kita nulis puisi bareng :D
Selasa, 19 Juni 2012
Kamis, 31 Mei 2012
Monoton
Gambarkan kerutan Rendra dalam wajahmu,
atau minimal ketegasan Chairil di setiap kata-katamu!
Berikan aku jawaban syahdu atas pernyataan-pernyataan selama ini!
1 Juni 2012
atau minimal ketegasan Chairil di setiap kata-katamu!
Berikan aku jawaban syahdu atas pernyataan-pernyataan selama ini!
1 Juni 2012
Jumat, 25 Mei 2012
Semoga Bukan Mapala
Di jalur-jalur menuju ketenangan batin
Kulihat sampah berserak tak teratur
Botol minuman, tabung gas, bungkus makanan,
ataupun tapak asma pengaku anak alam
Siapa tega lakukan itu?
22 Mei 2012
Selasa, 15 Mei 2012
Apa Kabar Nthus?
Si Plekenthus orang Jawa yang hidup di Jakarta
Dia tinggal di tanah basah di pinggiran kali Ciliwung
Sudah lima tahun ini ia tak juga kaya-kaya
Padahal kerjanya sudah tak bisa dihitung seberapa kerasnya
Orang DPR kalah sama intensitas kerjanya
Lha wong Plekenthus jam tidur aja buat nyari duit!
Miskin sudah jadi makanan sehari-hari disana
Duit nggak cukup buat di tabung buat pulang kampung
Nthus, kenapa jauh-jauh kesini kalo cuma ikut-ikutan?
Disana nggak ada apa-apa nthus, cuman ada makhluk berdasi yang tak punya nyali
Makhluk berdasi yang sembahyangnya korupsi
Gak becus ngurusin banjir doyannya bikin orang nangis
Nthus, sudah lupa kau sama suara rengek anakmu?
Anakmu butuh susu bukan madesu
Kau tak perlu malu pada anak istrimu, mereka baik hatinya
seperti nurani bapaknya yang bertahan dari gempuran jalanan Ibukota
Apalagi istrimu, ia rindu belaian dan belalaimu, apakah kau tahu?
Nthus, jika tak sanggup terbangkan uang,
minimal surat sajalah sebagai ungkapan rindu
Tulislah kalimat-kalimat pemecah air mata buat mereka
Jangan sampai muara itu mati dan tak berair lagi, jangan sampai
mereka mati jongkok di depan nasi aking istrimu
Aih! Maaf Nthus! baru sadar kalau kau buta huruf dan angka!
Oh apa itu gara-garanya?
Daganganmu laris manis tapi tengah malam kau selalu menangis,
sadar modal nggak balik
Kaos-kaos pada ludes tapi dompet selalu apes
Sudah kecut sebelum bangkrut
Malang nasibmu, sayang ... tiada orang menaruh sayang padamu
Nthus, masihkah kau kejar harapan butamu disini?
Ingat Nthus, istrimu bukan utang tapi Endang di desa
Endang nggak pernah malu punya suami sepertimu
Dia cintanya bukan monyet
Dia bukan kayak ABG kekinian
yang maen mobil warna-warni
yang intim cuma dalam genggaman gadget
yang berdandan badut dan berpakaian dangdut
Endang sayang kamu, Nthus!
Nthus? Nthus? Nthussssss????
Jangan tidur dulu!!!
Aku tak mau mendengar mimpimu!!!
Mimpimu mimpi buruk!!!
Mimpimu bikin celaka!!!
Sementara itu matahari sedang tinggi-tingginya
Memanasi Plekenthus yang sedang tidur
Entah ia bermimpi apalagi dengan selimut keringat dakinya
Semoga saja bukan mimpi untuk tinggal lebih lama lagi
di lembah harap ini
15 Mei, Ciliwung dalam Imajinasi.
Langganan:
Postingan (Atom)