Minggu, 21 April 2013

Engkau Yang Maha


Aku kekasih-Mu. Penuh salah juga dusta. Maka lengkapi diriku. Cumbu aku dengan mesra. Kecup keningku dengan hampa cinta dunia.

Aku kekasih-Mu. Penuh ragu dan kebimbangan. Maka pukul diriku. Tampar aku dengan kesabaran terus tak berhenti. Tonjok wajahku dengan waktu yang tak kunjung berjawab.

Aku kekasih-Mu. Dengan segala gulana dan rasa gundah. Tangisi diriku bersama hening. Bersama muram sinar rembulan. Juga janji alam kepada semesta.

Kekasihku. Maafkan. Sungguh aku makhluk tiada ucap syukur. Maka jauhkan surga. Maka dekatkan neraka. Putuskan jembatan kasih-sayang. Hukum aku dengan cambuk tanpa asmara.

Kekasih hatiku. Untuk-Mu aku berserah. Segala doa kupanjatkan. Kudengungkan. Kurasukkan. Kugenggam erat. Kemana dan dimana ku pijak dunia ini. Dunia fana, dunia derita luka.

Kekasihku, kekasihmu juga….

Alhamdulillah ku bersyukur kepada-Mu

Sabtu, 30 Maret 2013

Ke-ka-sih

Rasa tidak akan pernah ajeg. Kalaupun ada itu hal yang mustahil.

Rasa tidak akan pernah berhenti di satu posisi. Rasa akan selalu bergerak mencari titik-titik ketenangan, kenyamanan, keheningan, dan segala sifat-sifat menentramkan lainnya. Dengan proses sedemikian rupa, rasa akan selalu dihinggapi kegelisahan, kegundahan, dan kebimbangan, juga keraguan. Sebelum akhirnya menemukan posisi damai. Proses ini seperti roda berputar, rasa selalu mengalami tingkat kenyamanan sebelum akhirnya kembali ke tingkat paling pahit, dan seterusnya- dan seterusnya, selalu bergerak berputar.

Itulah alasan mengapa Gusti menciptakan dan memberikan seseorang pria atau wanita, yang dengan segala sifat maupun sikap-nya, mereka saling kasih- mengasihi, lalu saling menyematkan status diantara keduanya yang tak tervisualkan kata ataupun gambar, yaitu kekasih.

Kekasih, saling menyayangi, mengasihi satu sama lain, puncak proses pencarian jati diri, menyelami dan menemukan ketentraman rasa yang terus bergerak dan berlarian kesana kemari.

Kekasih, proses mencari kelemahan-kelemahan diri hingga akhirnya lahir sebuah sikap saling mengalah, saling memahami, juga saling bersabar demi memperoleh ketenangan-keheningan rasa.

31 Maret 2013
Di dalam kata-kata

Kamis, 28 Februari 2013

#1

Seperti air hujan yang turun tiba-tiba,
rindu membuatmu panik dan tidak tenang.

Untukmu...

Ketika kata tak terucap
Lalu diam beberapa detik atau bahkan menghabiskan menit
Bukan berarti obrolan kita selesai
Rasakan, aku minta hanya rasakan
Atmosfer sekitarmu, suara dalam dirimu, atau
coba dengarkan perasaan orang-orang sekitarmu

Kasih aksen pada meja ini
Pesanlah kopi, bakarlah kretek sampai pagi
Kecup perlahan rasakan hangat di tepian cangkirnya
Hirup kuat kretek-mu hempaskan keluar, bebas!
Lihatlah kelak-kelok asap, betapa fleksibel betapa liar lalu hilang!
Seperti juga hidup, eksis lalu tiada!

Percakapan menghidupi kita
Di dalam semesta di bawah langit berbintang
Tembok kita tembok udara
Tidak ada pagar pembuat batas
Kita saling berbalas santun,
bertukar rupa, bahkan ejek-terjelek

Ketika kata tak terucap, kau tahu...

aku hanya memikirkan bagaimana cara merindukanmu dengan baik...